Sebagai Penggali Pancasila, Bung Karno Menolak Ditawari Jadi Raja

JAKARTA, Misteri.co.id ll Menyelami pemikiran Bung Karno seperti masuk labirin. Banyak orang tidak mudah memahami jalan pikirannya. Isi kepalanya memang dicharge dari berbagai sumber. Bung Karno bisa mengutip ucapan dari pemikiran Swami Vivekanda sampai berbicara mengenai feminism Hendriette Roland Holst.

Di dalam apa yang dinamakannya “dunia pemikiran”, Bung Karno bisa berdialog dengan tokoh-tokoh dunia. Seperti, Thomas Jefferson untuk soal Declaration of Independence. 

Bung Karno juga memperbincangkan persoalan George Washington, mendalami lagi perjalanan Paul Revere. Bahkan, dengan sengaja mencari kesalahan-kesalahan dalam kehidupan Abraham Lincoln.

Masih banyak tokoh dunia yang menemani Bung Karno dalam kegelisahannya. Seperti, Gladstone dari Britannia. Ditambah dengan Sidney dan Beatrice Webb yang mendirikan Gerakan Buruh Inggris. 

Yang lainnya, Mazzini, Cavour, dan Garibaldi dari Italia. Otto Bauer dan Adler dari Austria. Karl Marx, Friedrich Engels, dan Lenin dari Rusia. Tak ketinggalan Jean Jacques Rousseau dan Jean Jaures ahli pidato terbesar dalam sejarah Prancis.

Dengan “dunia pemikirannya” itu, maka Bung Karno-lah pengusul bentuk negara kesatuan. Inilah bentuk negara kita hingga saat ini. Negara Kesatuan Republik Inonesia disingkat NKRI.

Di balik itu semua, ada sebuah kisah yang pastinya jarang diketahui oleh para generasi millennial saat ini. Bahwa, Soekarno alias Bung Karno, oleh Jepang, sejatinya digadang-gadang menjadi raja atau kaisar. Namun, Bung Karno tegas menolaknya.

Kisahnya begini….

Waktu itu, Jepang sedang di ambang kehancuran. Tentara mereka kalah di beberapa pertempuran. Sementara bantuan dari Tokyo sudah berhenti. Mau tidak mau, di Indonesia mereka harus merayu pribumi yakni dengan “memberikan” kemerdekaan.

Untuk itu, mereka mengundang Soekarno dan Hatta membicarakan bentuk negara. Jepang menyodorkan monarki. 

“Seperti dalam kunjungan Tuan (Soekarno), baru-baru ini, rakyat Bali menghendaki kerajaan,” para pembesar Jepang menegaskan. “Rakyat mendesak supaya Soekarno menjadi raja Indonesia.”

Dengan tegas, Bung Karno menjawab, “Di masa permulaan sekali, ketika kemerdekaan ini masih merupakan bayangan, saya telah berjanji bahwa kami tidak akan mendirikan negara yang berbentuk kerajaan. Saya senantiasa menentang segala macam bentuk selain daripada negara republik.”

Menurut Bung Karno, bentuk negera kesatuan adalah tepat untuk kondisi Indonesia yang merupakan negara kepulauan. Asal dilengkapi angkatan laut yang kuat. 

“Ingat saja dengan kejayaan Sriwijaya dan Majapahit,” tegas Bung Karno. 

Pandangan Bung Karno ini tidak sejalan dengan keinginan Bung Hatta yang menganjurkan negara serikat. Itulah awal perbedaan pendapat di awal kemerdekaan Indonesia.

you're currently offline